Lelaki Yang Tak Ingin Lagi Menangis

17 Sep 2009

heart_brokenMALAM ini rasanya aku ingin segera meluncur kerumahmu. Melihat senyum dan tawamu, mendengar cerita-ceritamu, menyaksikan jilbabmu yang selalu anggun. Memandangi rapihnya gaun yang tertata. Aku ingin sekali mendengar pertanyaan-pertanyaan kritis untukku. Pertanyaan yang kerap membuatku berkeringat dan tergugup-gugup tak karu-karuan. Ingin rasanya bertemu denganmu, menatap matamu rapat-rapat. Mengagumi cantik wajahmu dengan beragam kata dan menyampaikan pesan cintaku lewat apa saja. Perlu kau tahu, aku sedang rindu berat malam ini.

Beberapa hari yang lalu, di sebuah bilik warnet, aku memberanikan diri melihat lagi foto-fotomu. Aku teringat foto-foto seperti itu pernah tersimpan rapi di komputerku. Bahkan aku mengoleksinya sejak pertama kali aku mengagumimu. Kupandangi lagi fotomu lekat-lekat. Kangen setengah mati langsung menyerbuku.

Aku suka kamu, aku ingin jadi pacarmu. Kalimat itu nekad aku ucapkan setahun yang lalu.

Saat itu, kita tengah berdua. Tak ada tatapan mata, tak ada genggaman tangan, tak ada ciuman. Kita hanya duduk di kursi berbeda bahkan sedikit berjarak. Dan kau sangat malu-malu waktu itu. Dan sebaliknya aku sangat nekad dan tiba-tiba. Sesaat kemudian kau beri aku jawaban tulus, kau menolakku.

Berbulan-bulan berikutnya perasaanku terus tersiksa, memendam rasa antara cinta, malu dan keinginan untuk memilikimu. Sempat terbersit diangan, sudahlah!, aku memang tak pantas untukmu. Namun cinta yang begitu kuat menggerakkan semangatku. Hatiku tiba-tiba dipenuhi keyakinan, aku pasti bisa memilikimu dengan caraku.

Dengan cinta, malam-malamku kuisi lantunan doa. Di setiap menjelang tidur nyaris selalu kubisikkan kata-kata cinta untukmu Yank, aku mencintaimu kataku gila. Dari mataku terpancar cahaya mengingat-ingat semua kelemahanku dan berusaha mencari solusinya. Semua yang tak aku punya, semua yang mungkin membuatmu tak sanggup bilang ya.

Kaupun lantas hadir menyiksa mimpi-mimpiku.

Pertengahan tiga malam, ketika semua orang tengah tertidur. Dari Hp kau bangunkan aku untuk salat tahajjud. Aku tak percaya itu terjadi, aku mengira diriku sedang bermimpi. Tapi itu nyata, dan berulang nyaris setiap malam. Kita saling membangunkan, kita selalu berdoa bersama, solat tahajjud bersama, lalu selesai itu kita bicara sambil menunggu adzan berkumandang. Malam-malam itu kita seolah sedang merencanakan masa depan bersama. Tak ada yang terlewatkan, semua kita bicarakan. Sungguh bahagianya!.

Dan, ketika suatu malam kau luput membangunkanku entah karena sengaja atau mungkin sedang tak ada pulsa. Aku kengen setengah mati. Aku keluar rumah dan berjalan 500 meter menuju konter diterpa dingin pagi yang dingin. Aku membangunkan paksa pemiliknya dan beralasan ada sesuatu yang gawat!. Ketika pemilik itupun bangun, dengan berat aku berucap isikan aku lima ribu saja!.

Ketika suaramu telah terdengar diseberang. Aku seperti minum seteguk jus avokad ditengah padang paling gersang. Bahagia dihatiku membuat tubuhku tak karuan posisinya, bahkan sempat aku berguling-guling saking senangnya. Woii bahagianya!

Dihari-hari berikutnya, tanpa sepengetahuanmu, cintaku semakin menggunung. Aku ingin memilikimu segera, sepenuhnya. Ingin kuhalalkan dirimu untukku seperti ucap Azzam pada Anna di Novel Ketika Cinta Bertasbih. Rasanya-rasanya, andai saja kau tinggalkan aku saat itu juga, maka aku pasti bunuh diri. Aku telah dimabuk cintaku sendiri.

Dan dipertengahan tahun, ketika kita sama-sama saling mengetahui. Kamu mulai menggugatku. Kau anggap aku mengecewakan dan terlalu pencemburu. Kau kerap mencemoohku, bahwa aku hanya tak pernah bisa berbuat. Kamu kecewa dan berkali-kali mengambil kata putus. Sesekali kau minta maaf dan mengajakku kembali, akupun begitu.

Tapi tidak untuk hari ini. Semua kekecewaanmu sepertinya telah membuncah dan habis. Semua kebodohanku tak bisa kau maafkan. Kekurangan-kekuranganku sudah tak mungkin kau tolelir. Terlalu banyak lelaki yang lebih sempurna dari aku yang bisa kau dapatkan dan menjawab masa depanmu nanti.

Jam setengah delapan pagi itu ketika baru saja selesai kutonton berita, ditelepon kamu berucap mantap, Kita putus, kita sahabatan saja.

Serasa ada sebongkah batu sebesar bukit menindih dadaku dan membuat aku sulit bernafas. Beruntung ada sedikit energi tersisa dan membuatku sanggup menjawab iya kita putus saja. Selesai itu, tak ada kata, tak ada basa-basi dan aku tertegun.

Tiba-tiba, dari sudut mataku menetes butiran-butiran hangat. Aku menangis. Aku menyesali tapi tak bisa apa-apa. Aku memang begini, mau apa lagi? Aku tak mungkin bisa menjadi orang lain yang bisa kau kagumi. Aku menghibur diriku, mungkin inilah yang terbaik. Tapi sia-sia. Penyesalan itu begitu besar dan berat.[]

Kadang kita memang harus kecewa karena orang yang kita cintai ternyata tak punya perasaan yang sama dengan kita. Mereka gak tau, dan mereka juga tak ngerti. Kalo ketulusan itu hanya bisa dibayar dengan cinta. Dan untuk ngadepin orang yang gak punya perasaan, kita juga gak boleh pake perasaan. [ Naskah Saus Kacang ]

Tanjung Karang, 15 September 2009
04.35


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post